Home Advetorial Inilah Wanita Cantik Melsy Juliana Bunga Menjadi Penyambung Lidah Rakyat

Inilah Wanita Cantik Melsy Juliana Bunga Menjadi Penyambung Lidah Rakyat

472
0
SHARE
Politik itu ibarat candu bagi segelintir orang. Bila hasrat politik itu merasukinya, sulit orang membebaskan diri darinya. Karena politik itu adalah seni kepemimpinan dan sarana perjuangan – lebih dari sekedar kekuasaan apalagi kedudukan tanpa nilai-nilai yang diperjuangkan.

Politik itu adalah sebuah ruang. Berpolitik adalah cara. Cara untuk berserikat, berkumpul dan mengekspersikan pendapat dan pikiran akan nilai-nilai yang diperjuangkan demi demi kebaikan bersama (bonnum commune).

Hasrat politik itu tidak tumbuh begitu saja. Ia melalui proses yang panjang sebelum seseorang ‘berkubang’ di dalamnya. Politik membutuhkan sikap kesetiaan.  Karena politik akan melewati ujian. Jalan terjal, bergelombang dan bahkan ngarai yang menantang loyalitas seseorang.  Politik tak pernah menjanjikan ‘angin surga’, dalam sekejap seseorang dapat meraihnya. Politik perlu diperjuangkan dan berpolitik harus memperjuangkannya.

Berbicara politik sebagai ‘candu’, ruang dan cara berekspresi, seperti dilansir dari KUPANG.ONLINE mewawancarai politisi PDIP, MELSY JULIANA BUNGA, di sela-sela kesibukannya mensosialisasikan dirinya sebagai calong anggota (Caleg) DPRD Provinsi NTT Dapil II (Kabupaten Kupang, Rote Ndao dan Sabu Raijua.

Menelusuri karier politiknya, Melsy memulainya sejak usia yang sangat muda. Benih politik itu tumbuh saat ia masih aktif sebagai mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.  Selama itu ia menjadi anggota aktif organisasi ekstra kampus yang sedikit berafiliasi dengan kegiatan politik. Kehidupannya di dunia kecil organisasi itu menumbuhkan benih-benih politik dalam dirinya, maka di saat-saat semester akhir ia pun memutuskan untuk bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Keanggotaan di PDIP baru seusia jagung, Melsy ‘berhenti’ dari aktivitas partai karena alasan menikah. Ia kemudian bekerja di LSM sebagai surveyor LSI. Tahun 2007 ia lulus tes di Kementrian Pertanian sebagai Penyuluh Pertanian Kontrak Pusat dan ditempatkan di Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang. Tugasnya membina kelompok tani hingga tahun 2015.

“Bekerja sebagai penyuluh memang mempunyai keasyikan tersendiri karena setiap hari saya bertemu dengan masyarakat di desa,” kenangnya.

Melsy mengaku bangga dan bahagia dengan tugas yang dijalaninya. Memungkinkan ia berinteraksi dengan banyak orang di desa. Meskipun bahagia, ia tak menampik kekecewaan yang sering menggoroti hati dan pikirannya.

“Tapi cukup melelahkan ketika kami harus berhubungan ke level atas (pemerintah, red), banyak hal yang menimbulkan kekecewaan. Berangkat dari pengalaman itu, jiwa aktivis saya muncul kembali. Saya merasa ini tidak beres dan saya harus berontak dan melakukan sesuatu.”

Setiap hari ia dan kawan-kawan, penyuluh pertanian, bertemu dengan masyarakat. Pertemuan yang intens ini memungkinkan mereka tahu kebutuhan masyarakat dan berusaha untuk membantunya.

“Kami berusaha membantu masyarakat. Salah satu cara buatkan proposal permohonan bantuan berupa alat-alat atau mesin-mesin pertanian, dan lain-lain. Tapi apa jawaban pihak dinas? Proposal kami dilempar ke lantai,” tutur Melsy sedikit geram mengenang masa-masa itu.

Pengalaman itu membuat dirinya kecewa. Belum lagi ketimpangan gaji antara penyuluh PNS dan penyuluh kontrak.  Sementara tugas dan beban kerja penyuluh kontrak jauh melebihi penyuluh PNS.

“Semua ketidakadilan ini membuat saya berpikir untuk harus berbuat sesuatu.”

Secara kebetulan atau memang ini jalannya, Melsy bertemu dengan salah satu senior di partai dan  juga senior organisasi ekstra di kampus kala itu.

“Kami berbincang banyak hal sampai kerinduan saya bergabung kembali ke partai. Senior saya merestui saya gabung kembali ke partai.”

Tak mudah bagi Melsy untuk kembali ke partai. Tantangannya adalah keluarga. Karena keluarga jualah ia memutuskan ‘berhenti’ dari PDIP kala usia keanggotaannya baru seusia jagung.

“Saya pulang rumah bicara baik-baik dengan suami dan akhirnya suami mengijinkan saya bergabung kembali ke politik.”

Ia kembali bergabung dengan PDIP tahun 2015 sambil jalan dengan tugas sebagai penyuluh pertanian.

“Maka masuklah saya ke partai tingkat DPC/kabupaten. Awalnya langsung ke DPD/provinsi, dengan banyak pertimbangan saat itu, saya ditempatkan di DPC Kabupaten Kupang dengan jabatan sebagai Wakil Ketua DPC Bidang Kesehatan Perempuan & Anak.”

Kembalinya ke panggung politik mempertaruhkan kariernya sebagai penyuluh pertanian. Melsy harus memilih antara partai atau pekerjaan.

“Suatu saat saya ditugaskan partai sebaga pembawa acara (MC) pada acara RAKERDA partai di hotel Sotis. Profil saya dimuat di koran Pos Kupang. Kepala Badan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Kupang memanggil saya karena beliau tahu saya aktif di partai setelah ia baca Pos Kupang tersebut.”

“Saya disuruh memilih antara penyuluh atau partai. Dan langsung saya putuskan juga saat itu bahwa saya lebih memilih partai dan melepas pekerjaan.”

Politik itu sebuah pilihan. Pilihan itu adalah sikap politik. Sejatinya politisi harus berani menyatakan posisinya dengan pilihan yang tegas. Tak abu-abu. Seperti itulah yang ditunjuk oleh Melsy Juliana Bunga. Ia rela meninggalkan pekerjaan demi mendapat ruang untuk menyalurkan aspirasinya. PDIP adalah awal dan akhirnya pelabuhan hatinya berpolitik meskipun gelombang tantangan itu silih berganti menghampirinya.

“Saya di PDIP bukan tanpa tantangan. Banyak tantangan bahkan hampir sonde (tidak, red) dapat pintu untuk Caleg juga.”

“Apalagi kami perempuan orang sering anggap sebelah mata. Saya bisa buktikan diri mampu bersaing dan  berkualitas di partai.”Kisahnya.

Gelombang tantangan itu datang tak membuat Melsy berpaling ke lain partai meskipun banyak tawaran dari banyak partai.

“Saya cinta partai ini (PDIP, red) dan mudah-mudahan selamanya,” ujarnya mantap.

Alasan ia memilih PDIP karena partai ini sudah dikenalnya sejak masih muda.

“Tapi yang paling utama adalah partai ini punya ideologi yang saya anut yaitu PANCASILA. PANCASILA adalah ideologi bangsa yang tidak dapat ditukar dengan apapun. NKRI HARGA MATI. Ideologi itu saya dapati di PDIP, partai nasionalis.”

Sebagai surveyor dan penyuluhan pertanian telah membentuk karier politik Melsy. Menghantar Melsy lebih dekat dengan persoalan di NTT. Tepat kata orang, masyarakat adalah universitas yang sesungguhnya. Ruang kelas terbuka untuk belajar, menemukan persoalan dan memberikan solusi.

“Persoalan di NTT beragam dan klasik. Hampir semuanya punya porsi persoalan yang sama-sama besar. Infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. Apalagi di pedalaman, rasa-rasanya kita belum merdeka.”

Menurut Melsy, selama ini sudah banyak kebijakan yang dibuat memihak pada rakyat kecil namun action-nya lambat.

“Saya berpikir ketika saya ada di sana (DPRD, red), saya mampu menggerakkan roda itu biar geraknya menjadi lebih cepat. Kenapa tidak? Saya punya semangat, saya punya perahu (partai, red) yang besar dan kuat. Jadi, tidak ada alasan bagi saya untuk hanya duduk diam menonton saudara-saudara saya terus merana di pedalaman sana.”

Ia menentang pendapat orang bahwa perempuan hanya sebagai pelengkap pemenuhan kuota 30 %. Karena menurutnya, ada banyak perempuan hebat yang tidak kalah dengan para lelaki dalam berpolitik, bahkan ada beberapa perempuan yang jauh melebihi para lelaki. Kedepan ia berharap tidak ada ada lagi batasan kuota. Perempuan diberi ruang seluas-luasnya sama dengan laki-laki. Diberi hak dan kesempatan yang sama.

Namun semuanya itu kembali kepada kaum perempuan sendiri. Mereka mau maju atau tidak?

“Perlu ada pembelajaran politik bagi perempuan supaya menjadi sadar bahwa dirinya mampu dan bisa jadi yang utama bukan hanya sebagai ban serep.”

“Perempuan dan laki-laki sebenarnya tidak boleh dibedakan dalam berpikir maupun bertindak. Otak, akal dan kemampuan seseorang tidak bisa dibedakan dari jenis kelamin.”

Lanjutnya.

“Yang berbeda itu hanyalah jenis kelamin dan kodrat. Perempuan hamil dan menyusui, laki-laki tidak. Selain itu semua sama.” Tandas wanita yang mengantor No. Urut 7 PDIP dari Dapil NTT II ini.

“Jadi, saya paling tidak suka ada perbedaan persepsi dalam politik bagi perempuan dan laki-laki.”

Labih lanjut, kata Melsy, kita melihat nama Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri. Ia melihat Megawati adalah sosok yang tangguh dan gigih. Kegigihannya dalam berjuang. Tidak ada kata menyerah walaupun ia dihantam badai yang sangat besar dari berbagai penjuru.

“Sejak muda menjadi korban politik karena terlahir sebagai anak Soekarno, dipaksa utk putus kuliah, tidak ada akses untuk bisa kemana-mana dan tidak bisa berbuat apa-apa. Partainya diobok-obok sampai dianggap PKI, tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap maju yang pada akhirnya melahirkan putra-putri kebanggaan bangsa dalam memimpin negeri ini.”

Wanita yang memilih sebagai “penyambung lidah rakyat” daripada penyuluh pertanian ini bercita-cita agar hidupnya berguna bagi orang lain. Meskipun ia tahu kondisi dan rintangan yang akan menghantam lajunya, ia percaya ia akan mencapainya. Dengan menjadi legislator atau tidak, Melsy tetap memilih jalan untuk menjadi penyambung lidah rakyat dalam kapasitas yang berbeda dan porsi yang lain.

Baginya, perjuangan itu tersurat dalam moto hidupnya, “YOU CAN IF YOU THINK YOU CAN – Anda bisa jika Anda Berpikir Anda Bisa (terjemahan red).” Dalam konteks dan karier politiknya, ia harus berbuat sesuatu yang mungkin menurut orang banyak mustahil, tapi ia percaya diri bahwa ia mampu dan buktikan suatu waktu kelak.

(Ayu/rju)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here