Home 11MaretTV Cerita Sejarah Kampung Adat Namata di Sabu Raijua Mempunyai Keunikan

Cerita Sejarah Kampung Adat Namata di Sabu Raijua Mempunyai Keunikan

289
0
SHARE

Oleh : Jefrison Hariyanto Fernando

Sabu – Bagi masyarakat Kabupaten Sabu Raijua,Nusa Tenggara Timur, nama Namata tidak lagi menjadi hal baru ketika di dengar. Namata merupakan sala satu nama kampung adat dan kampung megalitik yang ada di wilayah adat habba atau di Desa Raeloro Kecamatan Sabu Barat.

Selain sebagai nama kampung adat, Namata juga merupakan nama sala satu suku Besar yang ada di Kabupaten Sabu Raijua kususnya di wilayah adat Habba yang dalam wilayah administrasi masuk pada Kecamatan Sabu Barat.

Kampung adat namata terbentuk dan didirikan oleh salah seorang tokoh terkenal orang Sabu Raijua pada zaman dulu yang bernama Robo Aba. Ia memiliki 4 orang anak  dan dari ke empat anak itulah awal mula terbentuknya 4 Suku besar yang ada di Kecamatan Sabu Barat. Keempat anak itu yaitu anak pertama bernama Tunu Robo  yang mewariskan Udu/suku Namata, anak kedua bernama Pilih Robo yang mewariskan udu/suku Nahoro, anak ketiga bernama Hupu Robo yang mewariskan Udu/suku Nahupo serta Dami Robo yang mewariskan Udu/suku Nataga.

Robo Aba pada masa itu merupakan sala satu pemimpin besar diwilayah adat Habba setelah terjadi pembagian 5 wilayah adat di Kabupaten Sabu Raijua pada zaman Way Waka, dimana  Wai Waka memiliki anak yang bernama Dara way yang mendapat jatah wilayah adat terluas yaitu wilayah adat  Habba meliputi wilayah administrasi Kecamatan Sabu Barat. Robo Aba memiliki banyak pasukan dan pemburu yang bertugas berburu babi hutan untuk pasokan makanan sehari-hari Robo Aba.

Sebelum tinggal menetap di Namata, Robo Aba awalnya tinggal di kampung yang bernama Hanga Rae Robo yang kini masuk wilayah admisnistratif Desa Robo Aba, Kecamatan Sabu Barat.

Alkisah, suatu hari ia menyuruh anaknya Tunu Robo bersama beberapa pasukan lainnya untuk pergi berburu ke sebelah Barat yang bernama Radja Mara Kanni Bahi (kini kampung Namata,red). Di daerah yang bernama Radja Mara Kanni Bahi inilah mereka menemukan begitu banyak babi hutan atau bahasa Sabu wawi Addu.

Ketika sampai ke tempat berburu yang bernama Radja Mara Kanni bahi, Tunu Robo beserta pasukannya menemukan satu ekor babi hutan yang sedang tidur di bawa pohon Duri dan pada saat bersamaan mereka menghujam babi hutan tersebut dengan menggunakan tombak. Namun usaha mereka “membunuh” babi itu tidak berhasil karena tombak yang mereka gunakan patah. Mereka lalu kembali dan memberikan informasi kepada Robo Aba bahwa di tempat yang bernama Radja Mara Kanni Bahi itu merupakan tempat yang banyak babi hutan/wawi Addu.

Keesokan harinya Robo Aba memerintahkan lagi anaknya Tunu Robo dengan beberapa pasukan untuk berburu kembali ke tempat yang sama. Dia berpesan bahwa apabila kalian berhasil membunuh babi tersebut maka meraka harus membawa tanah dimana babi tersebut tidur yaitu tanah pada bagian kepala, tanah pada bagian perut dan bagian kaki belakang. Pada hari kedua tersebut Tunu Robo beserta pasukannya berhasil mendapatkan babi hutan/wawi Addu dan membawa tanah seperti yang dijanjikan ayahnya Robo Aba.

Ketika kembali ke rumah dengan mambawa babi hutan serta tanah seperti yang diperintahkan oleh Robo Aba kepada anaknya beserta pasukannya maka Robo Aba mulai melihat tekstur tanah yang diambil tersebut dan dia memutuskan bahwa tempat yang bernama Radja Mara Kanni BaHi itu menjadi tempat berburu babi hutan atau dalam bahasa Sabu disebut Era Pemata Wawi Addu. Sejak saat itulah tempat yang bernama Radja Mara Kani Bahi itu dirubah namanya menjadi Namata.

Robo Aba kemudian melihat lokasi dan tekrtur tanah Namata tersebut sangat cocok dibuatkan sebagai salah satu perkampungan  maka pada saat itulah ia memutuskan untuk berpindah tempat tinggal dari Hanga Rae Robo ke Namata. Sejak Perpindahan dari Hanga Rae Robo ke Namata maka kegiatan pembuatan Kampung adat atau dalam bahasa Sabu di Sebut Haro Nadea itu dilakukan dan nama kampung sebelumnya Radja Mara dirubah menjadi Kampung Adat Namata yang didahuli dengan prosesi resmi melalui ritual adat.

Setelah Ritual Haro Nadea dilakukan maka langkah selanjutnya yang dibuat oleh robo Aba adalah memindahkan Rumah adatnya yang bernama Rahi Hawu. Rumah adat Robo Aba yang diberi nama  Rahi Hawu sampai saat ini dipercayai sebagai rumah pertama yang didirikan oleh Robo Aba di Seba.

Robo Aba mulai membangun perkampungan megalitik untuk keperluan Ritual adat. Beberapa bukti sejarah adalah batu-batu megalitik yang sekarang tetap berdiri kokoh di kampung Namata.

Soal Nada, memang sebelum adanya Nada di Namata. Bahkan zaman sebelum Robo Aba sudah ada Nada di Merabbu yang saat kini ada di Desa Dainao Kecamatan Sabu Liae serta Nada di Kolo Teriwu yang terletak di Desa Teriwu , Kecamatan Sabu Barat. Ada niat kuat dari Robo Aba untuk menyatukan 3 nada ini yang dipusatkan di kampung adat Namata.

Robo Aba lalu membuktikan niatnya itu dengan memindahkan Nada dari Teriwu ke Namata yang ditandai dengan pemindahan batu-batu keramat  yang diambil dari Merabu dan Tertiwu. Alhasil tidak semua batu bisa dipindahkan ke Namata. Ada batu yang tetap tertinggal di Merabbu, Teriwu, Wowadu Dai Ie atau batu gempa Bumi yang tertinggal di kampung yang bernama Dai Ie (Desa Titinalede), Wagga Mengaru  serta Hanga Raerobo. Batu-batu  itu selanjutnya menjadi keramat dan dipercayai mempunyai kekuatan magiz yang terwaris hingga saat ini.

Berikut bebarapa batu keramat yang berada di kampung Adat  Namata yaitu Pertama, Wowadu Mejadi Deo atau tempat duduknya Mone Ama yang memegang jabatan tertinggi sebagai DEO RAI dari udu Namata.  Batu ini merupakan batu keramat yang tidak boleh disentuh oleh siapapun selain oleh Deo Rai  beserta wakilnya yang di sebut Bawa Iri Deo. Di atas batu inilah Deo Rai Akan duduk pertama kalinya untuk melaksanakan Ritual

Kedua, Wowadu Lawa Rai.  Batu ini merupakan batu keramat ke dua yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun selain Deo Rai. Letak batu ini di depan batu Mejaddi Deo. Batu ini punya hubungan dengan semua yang ada di di Rai Hawu atau pulau Sabu raijua sehingga batu inilah yang dipercaya sebagai batu pemegang kendali keamanan, kesuburan,kemakmuran dan kesejahrteraan Tanah leluhur Sabu Raijua.

Ketiga, Wowadu Kika Ga.  Batu ini merupakan batu yang diambill dari merabbu. Kika Ga sesuai dengan cerita orang sabu adalah Manusia pertama orang Sabu yang awalnya hidup di tempat yang bernama Hu Penyoro Mea dan membuat Nada atau Kampung kramat yang bernama Kolomerabbu

Keempat, Wowadu Hawu Miha. Batu ini merupakan batu yang diambil dari nama nenek moyang orang Sabu pada generasi ke  39 . Hawu miha anak dari hasil perkawinan antara kaka beradik Ngara Rai dengan Piga Rai. Hawu Miha memiliki 3 saudara yaitu Djawa Miha yang dipercaya merantau ke Pulau Jawa, Ede Miha yang merantau ke flores dan Huba Miha yang merantau ke Pulau Sumba

Kelima, Wowadu Ngahu. Batu ini merupakan batu keramat yang berfungsi untuk menentukan kemenangan perang, sehingga pada zaman dahulu ketika terjadi perang maka sebelum berangkat perang akan dilaksanakan ritual diatas Wowadu Ngahu dan yang melaksanakan Ritual diatas batu tersebut hanyalah Maukia Muhu dari Udu Namata. Jabatan Maukia Muhu sama halnya dengan jabtan sebagai panglima perang .

Keenam, Wowadu  Kelaga Rue. Batu ini merupakan batu yang berberfungsi untuk melakukan ritual dengan tujuan untuk kesehatan, pembersihan dan penyucian diri dari hal-hal yang tabuh dan yang melakukan ritual di atas batu ini adalah seorang mone ama yaqng memangku jabatan Sebagai RUE dari udu Nahupu. Jabatan sebagai Rue sama halnya dengan mentri kesehatan serta berfungsi untuk memenjatkan doa menolak bala atau mala peteka bagi tanah leluhur baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.

Ketujuh,Wowadu Latia. Batu ini merupakan batu keramat yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun kecuali oleh mone ama yang memegang jabatan sebagai Latia dari udu Namata. Kata latia dalam bahasa Indonesia sama hal nya dengan petir, sehingga diatas batu inilah akan lakukan ritual dengan memanjatkan doa-doa agar tidak  terjadi kecelakaan terhadap manusia,hewan maupun tumbuhan yang diakibatkan oleh disambar petir .

Kedelapan, Wowadu Meja.  Batu ini merupakan batu berbentuk plat besar yang digunakan sebagai tempat untuk memotong daging untuk sesajian oleh para mone ama yang melaksanakan ritual di batu-batu yang ada di Namata.

Kesembilan, Wowadu Weka Ngaru. Batu ini merupakan batu yang berbentuk bulat dengan fungsi untuk melakukan ritual bagi orang yang ingin mendapatkan jodoh.

Kesepuluh, Wowadu Hubi Jaru. Batu ini merupakan batu yang berfungsi untuk melakukan ritual agar menjauhkan dari kesusahan hidup sehingga baru nini dipercayai sebagai batu yang akan membawakan keberuntungan bagi siapapun.

Kesebelas, Wowadu Wopio. Batu ini berbentuk bulast besar dengan fungsi yang sama seperti wowadu Hubi Djaru yaitu untuk melakukan ritual agar menjauhkan dari kesusahan hidup sehingga batu ini dipercayai sebagai batu yang akan membawakan keberuntungan bagi siapapun.

Keduabelas, Wowadu Patti maratu Kaho, Ketigabelas Wowadu Piga Hina, Keempatbelas, Wowadu wabba dere Namata. Batu ini merupakan batu yang digunakan oleh udu Namata untuk pemukulan gong jika ada ritual yang harus di iringi dengan gong misalnya ledo.

Kelimabelas, Wowadu Wabba Dere Nahoro. Batu ini merupakan batu yang digunakan oleh udu Nahoro untuk pemukulan gong jika ada ritual yang harus di iringi dengan gong misalnya ledo.

Keenambelas, Wowadu wabba dere Nataga.  Batu ini merupakan batu yang digunakan oleh udu Nataga untuk pemukulan gong jika ada ritual yang harus di iringi dengan gong misalnya ledo.

Ketujuhbelas, Wowadu Ketoe Kedue Hole. Batu ini merupakan batu yang digunakan untuk menggantungkan kedue atau ketupat ketika ada ritual adat Hole. Ritual Hole merupakan ritual syukuran akhir tahun pada kelender adat orang Sabu Saijua

Kedelapanbelas, Wowadu Liru Bala. Liru bala dalam bahasa Indonesia berarti langit. Sehingga batu ini disebut batu langit.

Kesembilanbelas, Wowadu Dahi Balla. Kata Dahi dalam bahasa Indonesia sama halnya  dengan laut. Sehingga batu ini disebut juga batu lautan. Diatas batu ini akan dilakukan ritual yang disertai dengan doa-doa oleh Deo Rai agar laut selalu bersahaja dan memberikan keberuntungan dan kesejateraan bagi para nelayan.

Keduapuluh, Wowadu Ngallu. Ngallu dalam bahasa Indonesia artinya angin. Sehingga batu ini disebut juga dengan batu angin. Dalam kepercayaan orang Sabu Raijua angin memiliki dua sifat yaitu angin jahat dan angin yang baik. Oleh karena itu diatas wowadu ngallu inilah para mone ama melakukan ritual agar manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan bisa dijauhkan dari angin jahat.

Dalam perkembangan setelah semuanya selesai maka dibangun pula beberapa Rumah adat sebagai rumah para Mone Ama yang bertugas melaksanakan ritual. Di Namata misalnya untuk jabatan Deo Rai, ia harus memiliki rumah induk yang bernama Banni Deo dan rumah tinggal bernama Muri Deo.

Untuk yang memegang jabatan Maukia Muhu memiliki rumah adat yang bernama Heo Kanni. Demikianpun untuk yang memegang jabatan sebagai Latia dan Bakka Pahi serta rumah adat yang bernama Lui Wagga untuk yang memegang jabatan Tutu Dalu serta ada lagi rumah adat yang bernama Banni Mangngi dan Talo Hawu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here