Home Pariwisata Diduga Proyek Wisata Pantai Lasiana Bermasalah, Jaksa di Minta Periksa

Diduga Proyek Wisata Pantai Lasiana Bermasalah, Jaksa di Minta Periksa

269
0
SHARE

Kupang, Sebelas Maret.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT lebih khsus Dinas Pariwisata harus bisa mengintrospeksi diri dengan apa yang selama ini dikerjakan.

Begitu banyak anggaran baik melalui APBN maupun APBD dikuras untuk kepentingan mempromosikan obyek wisata didaerah ini termasuk membangun infratruktur, namun fakta dilapangan masih membuktikan bahwa niat baik membenahi dunia wisata ini semacam isapan jempol belaka.

Beberapa bangunan misalkan di lokasi Pantai Lasiana yang menelan anggaran senilai 4 M lebih pertahun adalah bukti ketidakseriusan pemerintah melihat wisata sebagai primadona yang perlu diperhatikan secara serius.

Pada Sabtu (4 Mei 2019) beberapa media menelusuri satu persatu obyek wisata Pantai Lasiana. Kunjungan awak media ini sekaligus ingin mempertegas kepada masyarakat tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada bangunan-bangunan yang dibangun dengan kesan asal-asalan itu, sekaligus menyakinkan Gubernur bahwa apa yang dirancang pihak Dinas Periwisata berbeda dengan bukti fisik di lapangan.

Setibanya dilokasi saat itu, pihak media menemukan sejumlah fakta yang membingungkan di bagian – bagian bangunan yang telah rusak seperti vondasi yang bisa saja tidak digali sedalam ukuran yang ideal, penggunaan bahan kayu kepok untuk atap, tempat pembuangan limba kamar mandi yang tidak terurus, dan begitu banyak keganjalan di beberapa unit bangunan itu.

Dari pembangunan tersebut aneh tapi nyata dan Benar-benar bangunan yang berlokasi di wisata Lasiana itu hampir tidak diurus secara baik. Herannya, masa kerja bangunan telah menelan dana Rp. 4 milar lebih pertahun tapi fisiknya seperti kandang kambing.

Menanggapi pembangunan tersebut, Dua orang pengunjung dilokasi kepada awak media mengatakan, misalkan gedung yang sudah selesai dibangun dan pernah dipakai itu ternyata tidak pernah disewa oleh orang, bahkan menurut mereka warga sekitar merasa tidak ada manfaat sama sekali ketika bangunan itu dibangun.

Mereka justru merasa kurang nyaman karena gedung mewah itu hanya bisa dilihat dari kejauhan nampak bagus tetapi tidak diurus kebersihannya.

Bukan saja itu, sebagian besar bangunan yang pernah dipakai dinas pariwisata untuk mempromosikan wisata NTT itu justru sudah rusak dan dibiarkan begitu saja. Dengan kondisi ini mereka menilai ada kesan pemerintah membuang anggaran yang besar untuk sesuatu yang tidak ada gunanya.

“Kami pengunjung. Kami mahasiswa. Masalah ini juga sudah pernah dibicarakan dengan dosen kami di Undana. Beberapa warga yang pernah kami tanyakan dan mereka merasa bahwa gedung ini tidak ada manfaat. Yang kami tau Dinas menyiapkan gedung ini untuk disewa dengan nilai 750.000 per satu hari, tapi sejauh ini tidak ada orang swasta yang pakai. Jika ada yang pakai kecuali pemerintah sendiri.

Mungkin juga agar mereka ingin mengatakan kepada warga sekitar tentang kegunaan ini. Tapi, sama saja, tidak ada yang pakai. Itu menurut warga yang pernah kami tanyakan. kalau tidak salah juga pernah media datang dan meliput disini dan kami masih menunggu mana beritanya atau mana korannya, tapi sampai sekarang tidak ada.

“Kami juga bingung mengapa masalah ini kok semacam diam ditempat begitu”, kata dua orang mahasiswa itu sambil meminta nama mereka tidak perlu di korankan.

Dalam kasus ini, pihak media menilai mestinya aparat Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT sebagai lembaga yang dipercara negara ini sudah seharusnya memanggil Kontraktor, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) termasuk pimpinan Dinas sebagai penanggungjawab untuk dimintai keterangan terhadap proyek-proyek di Pantai Lasiana itu.

Herannya juga, Jaksa diam, Gubernur Viktor Laiskodat yang mempunyai mimpi besar untuk menuntaskan kasus korupsi di NTT belum tegas termasuk diduga kuat ada lempar tanggungjawab antara PPK dan mantan kepala Dinas Marius Jelamu yang saat ini menjabat sebagai Karo Humas Setda NTT.

Untuk mengklarifikasi masalah ini, pihak Dinas Pariwisata melalui Sekretaris Dinas, Welly Rohi Mone saat di konfirmasi Sebelas Maret.com pada sabtu (4 Mei 2019) melalui telpon genggamannya nomer selalu sibuk, kemudian juga mantan kadis parawisata, Marius Jelamu mengalami hal yang sama.

(Rju/smr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here