Home 11MaretTV Gawat! Pasien Sekarat Disuruh Cari Kendaraan Sendiri, ‘Mobil Dinas Dipakai Pi Pesta’

Gawat! Pasien Sekarat Disuruh Cari Kendaraan Sendiri, ‘Mobil Dinas Dipakai Pi Pesta’

1376
0
SHARE

Foto:Istimewa

Sika – Pelayanan medis di setiap puskesmas bukan hal yang baru terhadap pasien yang membutuh pertolongan kepada kepada dokter kesehatan atau petugas kesehatan. Namun ironis mobil dinas malahan di pergunakan ke tempat pesta oleh Sopir.

Padahal, mobil dinas dipergunakan untuk mengantar pasien yang sedang membutuhkan pertolongan medis bukan untuk di pergunakan ke tempat pesta. Sialnya pihak puskesmas malahan menyuruh pasien untuk mencari kendaraan sendiri, ko bisa?.

Mirisnya lagi, Pelayanan buruk terhadap pasien lagi-lagi dipertontonkan petugas medis di Puskesmas Beru, Kecamatan Alok Timur, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT.

Seorang pasien sekarat yang mengalami pendarahan di usia kandungan dua bulan, asal Kota Maumere berinisial GS (36) diminta mencari kendaraan sendiri saat hendak dirujuk ke RSUD. T.C Dr. Hillers Maumere, Minggu 2 Juni 2019. Pada hal, saat itu kondisi ibu dua anak itu sedang kritis.

Menurut salah satu petugas, mobil ambulans sedang dibawa sopir ke tempat pesta di desa Nita. “Bidan telepon sopirnya di depan pasien,  infokan bahwa ada pasien mau rujuk ke RSUD. TC Hillers, sopirnya jawab masih di tempat pesta di Nita.

Lalu bidan tanya lagi, sampai jam berapa pestanya?. Sopir menjawab, sampai jam 12 malam. Maka bidan itu sampaikan ke pasien untuk cari kendaraan sendiri,” ungkap kakak kandung pasien berinisial, IM kepada wartawan, Kamis (6/6/2019).

Ia mengatakan, adiknya harus segera dirujuk ke RSUD T.C Hillers karena di Puskesmas tersebut tidak memiliki alat USG. Ironisnya, meski diminta mencari kendaraan sendiri, petugas medis malah mengambil gambar pasien dengan mobil serta STNK mobil yang dicari keluarga pasien.

“Karena diminta cari kendaraan sendiri, maka kami cari mobil taxi. Pada hal aturan BPJS, rujukan pasien antar faskes adalah tanggungan faskes, ini malah pasien yang bayar taxi sendiri. Bidan juga sempat ambil gambar, mungkin mereka mau klaim,” ujarnya.

Setiba di IGD RSUD. TC Hillers, pasien dipindahkan ke ruangan bersalin utk observasi. Hingga Senin 3 Juni 2019 pagi, oleh salah satu dokter, pasien dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa.

Namun, pada malam hari, pasien tiba-tiba dpindahkan ke ruangan kelas 2 tanpa penjelasan terlebih dahulu kepada keluarga pasien. Bahkan, pasien diabaikan oleh petugas medis.

Tetapi tidak dijelaskan juga oleh petugas. Kalau dijelaskan, keluarga berhak untuk minta rujuk ke RS lain.  Karena suami pasien banyak tanya, maka semua perawat tidak mau melayani pasien, sedangkan pasien lain dilayani,” tuturnya.

Ia menuturkan, hingga Selasa 4 Juni 2019 pagi, oleh seorang dokter obgyn, pasien diminta untuk beristirahat guna dilakukan USG melihat kondisi janin. Namun, pada Selasa siang, pasien diminta pulang. Petugas medis mencabut paksa selang infus dengan alasan tidak ada catatan perawat untuk dilakukan USG.

“Nah, gimana mau catat, sementara saat dokter visit pasien, tanpa ditemani perawat. Dokter jalan periksa pasien sendiri, bisa saja dokter lupa tulis, karena itu sudah jadi kewajiban ada catatan perawat,” tandasnya.

Karena dipaksa, kata dia, pasien akhirnya dibawa pulang  keluarga tanpa ada penanganan medis. Namun, pada Rabu 5 Juni 2019, pasein kembali mengalami pendarahan. Ia kemudian dilarikan ke RS. ST.Gabriel Kewapante untuk mendapat perawatan medis.

“Di RS ST. Gabriel Kewapante, pelayanan jauh lebih manusiawi. Pada hal RSUD TC Hillers sudah lulus akreditasi. Mungkin perlu ada training service excelent atau customer experience untuk staff maupun managemen,” kesalnya.

Ia berharap sebagai satu-satunya rumah sakit milik pemerintah di kota Maumere, RSUD TC Hillers harus bisa memberikan pelayanan yang baik bahkan manusiawi kepada masyarakat.

Sebagai rumah sakit rujukan di Sikka, harusnya kualitas pelayanan diperhatikan. Penjelasan tentang administrasi dan pelayanan perawat rumah sakit yang sudah berstatus akreditasi, harusnya menegakan hak-hak pasien dan keluarga.

“Siapa pun yang merasa memiliki Sikka, harusnya tidak membiarkan rakyatnya menderita. Ini orang paham aja dibuat bgini, apalagi orang dari desa yang awam soal hak dan kewajiban pasien,” tandasnya.

Direktur RSUD. TC Hillers, dr. Clara Yosefina Francis mengaku akan menindak tegas petugas media yang bertugas saat itu. Menurut dia, kejadian itu seharusnya tidak boleh terjadi jika semua berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Sebagai pimpinan, ia juga memohon maaf atas kekurangan dalam  pelayanan di rumah sakit.

“Akan saya telusuri masalahnya dan akan kami ambil tindakan pada oknum petugas. Terima kasih atas masukan dan koreksi untuk perbaikan lebih lanjut,” katanya kepada wartawan, Kamis (6/6/2019).

Ia berpesan jika ada keluarga atau masyarakat yang punya keluhan terhadap pelayanan RSUD TC Hillers, dapat langsung menghubungi nomor pribadinya selaku direktur atau call centre RSUD TC Hillers, 08261153945 agar dapat langsung diatasi.

(Ian/lmr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here