Home Hukrim Ini Kronologis Kasus Penganiayaan di Desa Pene TTS, Pelaku Bebas Berkeliaran

Ini Kronologis Kasus Penganiayaan di Desa Pene TTS, Pelaku Bebas Berkeliaran

217
0
SHARE

So.e – Kasus dugaan penganiayaan yang dialami tiga korban Daniel Tunliu (58), Ambrosius Tunliu (78) dan Arki Tunliu (15) Warga Desa Pene Utara, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur NTT, masih mandek di Polsek Niki Niki.

Bagaimana kronologisnya hingga mandek di tangan aparat kepolisian Polsek Niki Niki, Polres TTS, hingga kini belum ada tindakan dan memproses kasus dugaan penganiayaan tersebut.

Kasus dugaan penganiayaan bermula Pada Kamis (18/4/2019) lalu tiga korban warga Desa Pene Utara dianiaya oleh preman kampung, kemudian korban melaporan tersebut sudah di laporkan ke Polsek Niki Niki hingga kini tidak diproses,”Kata Salah Satu Korban Daniel Tanliu kepada, Senin (10/6/2019).

Daniel menuturkan, dari tiga korban penganiayaan yakni, Daniel Tunliu (58), Ambrosius Tunliu (78) dan Arki Tunliu (15). kami dianiaya oleh pelaku kakak beradik, Nikson Nenobai dan Yulius Nenobais. herannya kedua pelaku kini bebas berkeliaran tanpa diproses hukum,”kesalnya.

“Berdasarkan keterangan korban menceritakan, ketiganya dianiaya pada Kamis 18 April 2019 sekitar pukul 16.00 wita di kebun milik mereka. Saat memperbaiki pondok, para pelaku langsung mendatangi para korban dan melakukan menganiaya pengerusakan rumah milik korban,” kata salah satu korban

Setelah melakukan pengerusakan dan penganiayaan para pelaku langsung meninggalkan para korban dan kemudiannya para korban melaporkan peristiwa yang dialami mereka kepada polsek niki niki, namun setelah sampai di Polsek malahan pihak kepolisian menyuru mereka pulang dan damai.

Namun karena tidak puas dengan sikap kepolisian Polsek Niki Niki maka para korban kembali ke rumah dan keesok harinya mereka kembali melaporkan ke Polsek dan Polsek menerima laporan mereka. Namun sampai saat ini para korban tidak di berikan tanda terima laporan polisi dengan alasan polisi meminta harus berdamai.

Kemudian para korban menerima tawaran perdamaian yang ditawarkan oleh pihak kepolisian dengan biaya pengobatan sebanyak tiga ekor sapi sehingga dibuat surat perdamaian tanpa melakukan pencabutan laporan polisi karena menunggu ganti kerugian.

Setelah surat perdamaian itu di tandatangani para korban dan pelaku kemudian mereka pulang kerumah masing masing dengan catatan polisi bahwa kalau pelaku tidak tepati janjinya sebagaimana termuat dalam surat perdamaian maka polisi minta para pelaku untuk kembali ke Polsek untuk dibuat berita acara pemeriksaan BAP.

“Setelah beberapa hari kemudian para korban meminta ganti rugi kepada pelaku namun para pelaku menyatakan kami tidak punya binatang Sapi jadi kalian mau lapor ke mana silahkan lapor kami tunggu, “terang korban berdasarkan pernyataan pihak pelaku.

Atas pernyataan itu maka pihak korban mendatangi kembali ke polsek Niki Niki untuk di BAP, akan tetapi aparat kepolisian polsek niki niki tidak mau mengurus lagi karena sudah ada perdamaian. Mendengar pernyataan dari pihak kepolisian korban langsung mendatangi pengacara Yance Mesah,SH langsung membawa korban ke Polda NTT untuk melaporkan penyidik Polsek Niki Niki ke Provos Polda NTT.

Namun, setelah melaporkan ke Provos dan Provos langaung menghubungi pihak penyidik bersangkutan dan pihak penyidik menyatakan pada Provos bahwa kami penyidik sudah tunggu ketiga korban dari tadi pagi untuk di BAP, tetapi kenapa mereka lapor ke Polda?.

Penydidik polsek niki niki meminta kepada Provos untuk ketiganya di kembalikan ke Niki Niki untuk BAP, namun korban kembali ke Polsek Niki Niki bukan di BAP Malah di bentak bentak dan mereka di ancam dilaporan balik oleh penyidik karena sudah mempunya surat perdamaian.

Sementara, Kuasa hukum korban, Yance Mesah, SH memgatakan, saya selaku kuasa hukum para korban sangat menyayangkan sikap anggota polsek Niki Niki yang tidak profesional dalam menangani kasus yang dialami para korban,”tegas Yance.

Menurutnya, Polsek niki niki sudah bertindak sebagai pengacara para pelaku dan bukan lagi bertindak sebagai penyidik di Polsek niki niki, “Ujar Yance.

Yance menegaskan, berkait dengan kasus tersebut akan bersurat ke polda NTT untuk memeriksa para penyidik yang menangani kasus penganiayaan yang dialami oleh kliennya dan juga meminta Polda NTT mengambil ali terkait kasus tersebut dari Polsek niki niki yang sedang di endapkan,”Pungkasnya.

Sehingga berita ini diturunkan Kapolsek Niki Niki, TTS belum dapat dikonfirmasi sama sekali.

(Ian/smr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here