Home Ekbis Pengacara Tuding Bank Chirista Jaya Melakukan Transaksi ‘Siluman’ Ko Bisa?

Pengacara Tuding Bank Chirista Jaya Melakukan Transaksi ‘Siluman’ Ko Bisa?

242
0
SHARE

Kupang – Pengacara dari MM, Herry F. F. Bttileo, SH, MH polisikan Manajemen Bank Perkreditan Rakyat Chirista Jaya Perdana Kupang, ke Polda Nusa Tenggara Timur NTT dalam kasus dugaan Penipuan dan penggelapan ahli waris Wellem Dethan di Mapolda NTT pada, Rabu 22 Mei 2019 lalu.

“Kasus tersebut lebih baik ambil langkah hukum oleh kliennya MM, karena adanya dugaan transaksi siluman dengan mendroping pinjaman sebesar Rp. 110 juta dan Rp. 200 juta,” Kata Herry Battileo kepada wartawan, Rabu 18 Juni 2019.

Herry menyatakan, Bank Christa Jaya Perdana Kupang dilaporkan karena melakukan penipuan dan penggelapan atas 2 buah objek hak tanggungan yang dijaminkan Wellem Dethan (Almarhum) suami dari MM, “tegasnya.

Ia mengaku, dimana sebidang tanah dan bangunan SHM 166 seluas 488 Meter Persegi atas nama, Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana dan sebidang tanah bangunan SHM 168 seluas 334 M2, atas nama Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana,” bebernya.

“Klien kami telah melaporkan ke Polda NTT dengan laporan Polisi Nomor : LP/B/184/V/RES.1.11/2019/SPKT. Dikatannya, pihak Bank Christa Jaya Perdana Kupang di laporkan ke Polda NTT karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan atas dua SHM yang dijadikan sebagai objek hak tanggungan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 dan Pasal 372 KUH Pidana.

Lebih lanjut, kata Herry, kliennya sebagai Pelapor dan Bank Christa Jaya Perdana Kupang sebagai terlapor sudah dipanggil penyidik dari Dtreskrimum Polda NTT untuk diminta keterangan terkait kasus dimaksud.

“Bisa kena pasal penggelapan, pasal 372 KUHP yang meliputi unsur Subjektif Delik yaitu dugaan adanya kesengajaan terlapor (Bank Christa Jaya Perdana) menggelapkan barang milik kliennya selaku ahli waris dari almarhum Wellem Dethan,” tegas pengacara Kondang Kota Kupang ini.

Adapun unsur objektif delik yaitu unsur barang siapa, dalam hal ini jelas Bank Christa Jaya, unsur menguasai secara melawan hukum yang merujuk pada fakta terkait adanya baki debet kredit telah lunas alias Nol.

Tentang Pasal 372 KUH Pidana, dia merincikan bahwa unsurnya dipastikan terpenuhi karena perihal yang diadukan sudah sangat jelas meliputi unsur subjektif delik dan unsur objektif delik.

“Unsur subjektif, delik ini diduga ada kesengajaan pelaku (Bank Christa Jaya Perdana) untuk menguntungkan diri. Kesengajaan itu dilakukan dengan cara melakukan suplesi kredit tanpa sepengetahuan klien kami selaku ahli waris bahkan terbukti tidak ada akat kredinya.

Sedangkan unsur objektif delic meliputi unsur barang siapa tentu sudah jelas dan pasti Bank Christa Jaya Perdana, untuk unsur menggerakan orang lain dalam suatu rangkaian tipu muslihat, unsur ini dilakukan dengan cara-cara pihak BPR.

Bank Christa Jaya Perdana Kupang memberikan Surat Pemberitahuan, diikuti dengan Surat Peringatan Pertama sampai dengan Surat Peringatan Ketiga, surat-surat ini adalah diduga bagian dari suatu rangkaian tipu muslihat.

“Pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga proses hukum selesai. Pihaknya meminta agar penyidik secara profesional melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait kasus ini,” tegas Herry.

Sementara Manager BPR Christa Jaya Perdana, Wilson Liyanto kepada wartawan di Kantor BPR Christa Jaya Perdana Kupang, selasa 18 Juni 2019 membantah pernyataa yang diaampaikan pengacara karena kasus yang dituding melakukan transaksi ‘siluman’ atau penggelapan transaksi kepada nasabah kredit almarhum Wellem Dethan.

Wilson mengatakan terkait keluhan penipuan dan penggelapan dari MM yang merupakan ahli waris dari Almarhum Welem Dethan itu tidak benar, oleh karena dalam transaksi pinjaman tersebut diikat dengan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang telah ditandatangani oleh Welem Dethan dan juga istrinya.

“Saya atas nama Bank Christa Jaya menyampaikan bahwa terkait dugaan tersebut semuanya itu tidak benar, karena dalam transaksi pinjaman yang kami lakukan itu didukung dengan SPK dan sudah ditanda tangani oleh debitur kami,” jelas Wilson.

Wilson menambahkan, Almarhum Welem Dethan semasa hidupnya merupakan salah satu nasabah terpercaya Bank Christa Jaya yang telah bekerja sama kurang lebih 11 tahun lamanya, bahkan sebelum Bank tersebut ada Almarhum sudah bekerja sama dengan pimpinan Bank Christa Jaya.

“Beliau itu merupakan nasabah prioritas Bank Christa Jaya, jadi untuk memudahkan dan mempercepat proses pencairan dana kita tidak perlu melakukan pendatanganan ulang SPK baru, karena SPK lama yang ditandangani Wellem Dethan dan istri sudah ada saat pencairan dana pinjaman sebelumnya,” ungkap Wilson.

Wilson menjelaskan terkait dengan sistem yang di perlakukan bagi Nasabah prioritas atas nama Almarhum Welem Dethan yaitu “Sistem Tarik Longgar”, di mana peminjaman yang dilakukan seterusnya tidak lagi merepotkan dengan berbagai administrasi.

“Sebenarnya sistem yang dipakai bagi Almarhum adalah sistem tarik longgar, di mana kami tidak lagi mempersulit nasabah dengan harus mengurus berbagai administrasi yang berlaku, cukup dengan menandatangani slip penarikan dan longgar tarik uangnya pasti langsung cair ke rekening,” ungkapnya.

(Smr/rju)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here