Home Hukrim Polres Sumba Barat Dinila Tidak Serius Tangani Kasus Pebantaian, Ko Bisa?

Polres Sumba Barat Dinila Tidak Serius Tangani Kasus Pebantaian, Ko Bisa?

765
0
SHARE

Sumba Barat – Kuasa Hukum Korban Pembantaian, Lesly Anderson Lay, SH mengatakan Polres Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur menilai lamban menangani kasus pembunuhan di Desa Matapaywu, Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat pada Kamis 11 Juli 2019 lalu, sekitar pukul 14.00 wita.

Demikian disampaikan kuasa hukum keluarga korban pebantaian di Sumba Barat, Lesly Anderson Lay, SH kepada wartawan, pada Jumat (9/8/2019).

Menurut Lesly, Kasus yang berawal dari pengukuran lahan oleh aparat desa itu menewaskan Lelu Lolo. Sementara adik kandungnya, Lende Umbu Lando, mengalami luka berat,”katanya.

“Saya menilai penyidik Polres Sumba Barat tidak profesional dan terkesan tidak serius, padahal kasus ini terjadi pada siang hari dan disaksikan banyak warga, tetapi sampai saat ini polisi belum berani menetapkan tersangka.

Ia mengatakan, menurut keterangan isteri korban luka berat yang saat itu berada di lokasi kejadian, orang-orang yang diduga pelaku yakni, AUL, aparat desa setempat, OUD selaku sekertaris desa, YUR selaku sekertaris BPD dan EUZ.

Ironisnya, kata Lesly, hingga saat ini orang-orang yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan belum ditangkap polisi.  “Pada prinsipnya setiap warga negara wajib mendapatkan perlindungan hukum atas tindakan sewenang-wenang atau jadi korban tindak pidana.

Itu kewajiban negara melalui alat negara yaitu polisi wajib memberi perlndungan hukum tehadap korban, bukan mebiarkan korban dengan ketidakpastian hukum, karena ini tindak pidana yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang,” kata Lesly.

Prosedur hukum terkait penanganan perkara tersebut bukan hanya sebatas menerima laporan atau memeriksa saksi tetapi harus pula diikuti dengan kepastian hukum, menetapkan tersangkanya apabila sudah ada bukti permulaan yang cukup.
Ia meminta polisi segera menindaklanjuti laporan keluarga korban dan segera menetapkan tersangka.

“Kasusnya sudah begini lama, kalau polisi tidak segera tangkap, para pelaku bisa lari dan bisa hilangkan barang bukti bahkan bisa saja mngancam saksi untk tidak memberi keterangan,” ujar Lesly.

“Dalam kasus ini pembuktiannya tidak sulit. Apalagi sudah periksa saksi-saksi, faktanya korban itu ada,” sambungnya.
Sebagai upaya kontrol penanganan proses kasus ini, pihaknya akan surati Diskrimum Polda NTT, Bidang Pengawasan Penyidik dan Bidang Pengaduan Masyarakat (Dunmas) Polda NTT.
“Kita laporkan ke Polda NTT untuk mengetahui hambatan dalam proses kasus ini, karena sampai detik ini belum ada tersangkanya,” tandasnya.

Isteri korban luka berat, MRN (40) mengungkapkan, kasus itu telah dilaporkan ke Polres Sumba Barat sesaat suami bersama kakaknya dibacok pada 11 Juli 2019.

Laporan itu tertuang dalam surat tanda laporan polisi dengan Nomor : LP/PID/152/VII/2019/NTT/Res. SB/SPKT, Tanggal 11 Juli 2019.

Ia mengaku hidup dalam ketakutan dan  ancaman, karena itu ia meminta polisi segera menangkap orang-orang yang diduga kuat sebagai pelaku.

“Saya juga diancam mau dibunuh. Saya takut anak-anak saya jadi korban,” katanya.

Kasus itu, kata dia, berawal dari pengukuran lahan untuk pembukaan jalan baru di desa itu oleh aparat desa. Karena tak melalui proses pendekatan ke pemilik lahan, suaminya melakukan protes.

Protes suaminya itu dibalas dengan bacokan parang oleh para pelaku. Melihat adiknya sekarat, kakaknya, Lelu Lolo berupaya melerai perkelahian empat lawan satu itu.

Nahas bagi Lelu, ia juga dibacok dengan parang hingga tewas di tempat. Sementara suaminya cacat seumur hidup akibat tebasan parang di tulang punggung dan leher.

“Suami saya tidak menolak saat pengukuran, dia hanya sarankan agar bisa digeser sedikit karena dekat dengan kubur, namun dibacok para pelaku. Saat itu banyak warga yang menyaksikan termasuk saya sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap polisi segera menangkap para pelaku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. “Selama mereka masih bebas, keluarga saya hidup dalam ancaman. Suami saya sekarang cacat, tidak ada yang bisa melindungi saya dan anak-anak,” tandasnya.

Terpisah, Kapolres Sumba Barat, AKBP Michael Irwan Thamsil saat dikonfirmasi belum memberi keterangan jelas karena masih berada di luar daerah.

“Saya masih di luar kota mas, nanti kembali saya cek ya,” ujarnya singkat.

(Raju/ayu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here